Kode
Tugas : 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi – Pemimpin dalam Pengelolaan
Sumber Daya
Tugas : Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Nama : Zakarias Bagung, S.Pd
Kabupaten : Manggarai Barat
Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya
merupakan suatu kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seorang guru untuk
memanfaatkan serta mengoptimalkan segala sumber daya yang ada di sekolah dalam
mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Sumber daya yang dimaksud adalah
ke-7 aset/modal utama yang mendukung dan memengaruhi keberlangsung proses
pendidikan dalam suatu ekosistem sekolah, antara lain: modal manusia, modal
sosial, modal fisik, modal lingkungan alam, modal finansial, modal politik, dan
modal agama dan budaya.
Dalam mengelola sumber daya di atas, ada dua
pendekatan yang dapat dilakukan yaitu Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based
Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thinking).
Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) adalah
sebuah konsep pendekatan yang memfokuskan pada apa yang
mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan
dilihat dengan cara pandang negatif. Jika hal ini terus dibiarkan, semakin lama
akan membuat kita lupa akan potensi dan peluang yang ada disekitar.
Sedangkan Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based
Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer,
bahwa pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal
yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan
berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang
menjadi inspirasi, dan yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.
Sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan
sumber daya yang ada di sekolah, seorang guru dapat mengimplementasikannya
melalui beberapa cara seperti melakukan pemetaan terhadap 7 aset utama yang ada
di sekolah, melakukan sosialisasi ke-7 aset tersebut kepada rekan guru dan
warga sekolah, dan memberdayakannya untuk mendukung proses pembelajaran. Jika
seorang guru mampu memberdayakan ke-7 aset yang ada di sekolah, niscaya akan
tercipta pembelajaran yang berkualitas dan berdampak bagi murid.
Menurut Ki Hajar Dewantara, pembelajaran yang
berkualitas dan berdampak pada murid adalah pembelajaran yang mampu menuntun
murid sesuasi dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Artinya, peran guru sebagai
pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan
sumber daya dapat menciptakan merdeka belajar, berpusat pada murid, mandiri,
inovatif, kolaboratif dan menyenangkan. Hal ini didukung oleh pendekatan
Inkuiri Apresiatif (IA) sebagai pendekatan kolaboratif berbasis kekuatan
dengan tahapan BAGJA. Paradigma ini mendorong semua pihak untuk
bersama-sama membangun komitmen dan kesadaran dalam menciptakan iklim sekolah
yang mengalami transformasi dan berpusat pada peserta didik, sehingga lahirlah
murid merdeka.
Untuk menumbuhkembangkan kemerdekaan para murid,
maka sangat diperlukan penerapan budaya positif. Budaya positif akan
menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi para murid
maupun guru. Selain lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi murid
kebutuhan belajarnya pun juga menjadi perhatian sebagai aset untuk mempersiapkan
masa depan mereka melalui model pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran
berdiferensiasi akan menjawab setiap kebutuhan belajar murid. Namun perlu
diakui bahwa sebaik apapun metode yang diberikan guru sebagai pemimpin
pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya, tetap masih ada murid yang
membutuhkan bantuan khusus. Hal yang dilakukan guru adalah dengan menggunakan
coaching. Teknik coaching sebagai pendekatan untuk menggali potensi murid
maupun hambatan yang dihadapi murid dalam proses pembelajaran.
Setelah mendalami materi Pemimpin pembelajaran dalam
Pengelolaan Sumber Daya, mindset dan cara pandang saya pun kini berubah. Saya
menyadari bahwa sebelum mempelajari modul ini saya selalu berpikir berbasis
kekurangan/masalah, selalu fokus pada hal yang negatif, mengidentifikasi pada
kekurangan, fokus mencari bantuan, memusatkan perhatian pada apa yang
mengganggu. Sebaliknya, setelah mempelajari modul ini mindset saya kini berubah
bahwa sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya saya harus
fokus pada aset dan kekuatan, mampu membayang masa depan, berpikir tentang
kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapainya, mampu
mengorganisasi kompetensi dan sumber daya, mampu merancang sebuah rencana
berdasarkan visi dan kekuatan, dan melaksanakan rencana aksi yang sudah
diprogramkan.
Serangkaian ulasan di atas, saya berkesimpulan bahwa
pencapaian proses pembelajaran yang bermutu dan berdampak bagi murid dapat
diperoleh melalui kerja sama yang solid dengan berbagai pihak dan memberdayakan
semua aset yang ada di sekolah. Selain itu, merubah maindset dengan memusatkan
pikiran pada hal-hal yang positif atau berdaya guna dapat mendukung kemajuan
sebuah lembaga pendidikan.
Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata
Judul modul : Mengubah Mindset dengan Pendekatan Berbasis
Aset
Nama peserta : CGP-1-
Kab. Manggarai Barat-Zakarias Bagung

Komentar
Posting Komentar